Kurasa dia memang tak sepenuhnya pada ku.
Dia masih sendiri dengan dirinya,
dia belum berbaur dengan ku.
Dimana dia saat ku sekarat ?
Kemana dia ketika ku sakit ?
Kenapa dia membiarkan ku terkapar ?
Mengapa dia menutup telinga saat kuteriakan pedihku ?
Mungkinkah ku telah ganggu tidurnya dengan kesakitan ku ?
Mungkinkah hidupku adalah hama baginya ?
atau mungkin tubuh ini benalu untuk dirinya ?
Ingin ku tak berprangsaka buruk, tapi mosi tidak percaya ini lebih kuat menggagahi ruang positif ku yang ada.
Dia,
yang membiarkan ego dirinya bertahta.
Dia,
yang melepaskan jutaan benci ini.
Dia,
yang melucuti semua kepercayaan ku.
Dia,
yang merajam niat tulus itu.
Dia,
yang mengiris harapan-harapan itu menjadi serpihan.
Segalanya kembali seperti sedia kala, kembali seperti semula.
Kembali aku menikmati kesendirian ini,
Kembali aku rasakan kesepian ini,
Kembali rasa hilang itu menjamah,
Kembali luka itu menyapa lembut,
Kembali rindu lalu itu menggoda,
Kembali terkuak semua kenangan terlarang itu teringat.
Aku butuh teman, pendamping, seseorang yang mencintaiku.
Aku pernah jadi lilin dengan api kecil yang menerangkan sekitarku,
Namun angin bisa memadamkan api kecilku..
Ketika ku padam dalam kegelapan, mengapa tak ada yang menyalakan api kecil ku ?
Dia meninggalkan aku dalam kegelapan.
Dia membiarkan aku padam.
Semuanya masih membebaniku.
Semuanya menganggapku benalu.
Semuanya seperti menyiksaku.
Semuanya sungguh menyabik dengan angkuh.
Apakah aku sedang menikmati karma ?
Apakah aku sedang menuai dusta yang pernah kutanam ?
Apakah aku yang menangis terakhir ?
Dia,
Dia,
Dia,
kini yang membuat ku begini.
No comments:
Post a Comment